Sejauh mana kita perhatian pada apa yang masuk dalam tubuh kita? Pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan renungan apakah yang masuk dalam tubuh kita sudah benar halal, masih pada area abu-abu atau subhat atau bahkan jelas kehaharamannya.

Rasulullah SAW jauh sebelum adanya perkembangan teknologi pengolahan berkembang untuk menjaga apa yang masuk dalam kita. Sedikit mengingat kembali Hadits ke-10 pada Hadits Arbain yang disusun oleh Imam An-Nawawi.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌوَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ.رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” [HR. Muslim, no. 1015]

Hadist diatas terlihat sangat jelas kondisi yang mempermudah terkabulnya do’a seorang hamba. Hamba tersebut dalam kondisi musafir dan mengambarkan kondisi kepayahan/ kesusahan, menengadahkan tangan serta menyebut nama Allah SWT. Sebab makanan yang dimakan masih bersinggungan dengan barang haram ternyata menjadi sekat do’a yang dipanjatkan hamba kepada Allah SWT.

Makanan yang masuk dalam tubuh tidak sesederhana akan segera keluar setelah dimanfaatkan dalam tubuh, namun sebenarnya nutrisi pada makanan tersebut akan dimanfaatkan dan diolah kembali oleh tubuh untuk sistem matabolisme tubuh, perbaikan dan perkembangan sel. Sehingga apa yang masuk dalam tubuh sepenuhnya akan menyatu dalam tubuh kita sampai akhir hayat, yang terbuang dalam bentuk feses adalah ampas atau sisa-sisa nutrisi makanan tersebut. Seperti dalam hadits diatas dalam kondisi yang seharusnya mempercepat do’a terkabul, namun yang terjadi karena makanannya haram do’a tidak akan dikabulkan.

Saat ini menjadi salah satu tantangan tersendiri dalam memastikan status kehalalan makanan, karena bisa jadi sumber makanan tersebut haram karena perkembangan teknologi pengolahan sangat pesat dapat mengubah karakteristik dan bentuk makanan menjadi makanan yang bersumber dari bahan halal. Beberapa tips yang bisa dipakai untuk memastikan makanan yang akan kita makan.

  1. Paling mudah adalah memastikan adanya sertifikat halal dari bahan atau produk tersebut serta cek kebenaran label halal tersebut pada apps halal MUI atau website kredibel lainnya.
  2. Jika merupakan bahan makanan sembelihan, pastikan disembelih dengan cara syariat islam dan terbebas dari kontaminasi bahan haram, misal jika menggilingkan daging dipastikan, jasa penggilingan tersebut tidak menerima dari bahan Babi
  3. Produk olahan jika belum terdapat logo halal dan komposisi produk sudah tercantum semua pada kemasan, pastikan tidak ada bahan haram yang  pada komposisi tersebut. Ini tentunya butuh literasi tersendiri terkait dengan jenis bahan yang berpotensi dan bersinggungan dengan barang haram
  4. Mencari alternatif jenis produk lain yang sudah jelas status kehalalannya.

Dengan hati-hati menjaga semaksimal mungkin status kehalalan apa yang masuk dalam tubuh kita akan membawaa keberkahan tersendiri baik untuk urusan dunia dan tentunya mendekatkan kita pada surgeaNya. Aamiin. Wallahu A’lam Bishawab [Muhammad Nur Kholis, M.Si/ Ed. El-Hm]

ADAPUN ARTIKEL-ARTIKEL MENARIK YANG TIDAK BOLEH ANDA LEWATKAN:

http://hi.unida.gontor.ac.id/2020/10/19/matrikulasi-bahasa-belajar-mencintai-bahasa-arab-bersama-language-janissary/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *